23 Januari 2011

Jakarta Terjebak Lanskap (part 1)

Mataku terpaku pada selembar kertas tebal, kira kira 200gram beratnya. Dihiasi ukiran emas dan bertahtakan sambungan tinta hitam legam.

Beruntung sekali aku bisa memilikinya, tertulislah namaku, dan riwayatku sebagai pemiliknya. Ratusan bahkan ribuan ingin memilikinya.

Dewi fortuna telah memilihku untuk memilikinya. Hanya dengan kertas inilah aku bertahan hidup, merantau ke Jakarta, ibu kota negaraku.

Perkenalkan dulu, aku Bayu. Nama asli Banyu Bening. Keturunan Toraja aseli, salah satu putera terbaik bangsa ini.

Terkadang aku merenung, sebagai keturunan Toraja, mengapa namaku Banyu Bening? Bukankah itu bahasa orang orang pulau Jawa?

Namun dalam lamunanku, aku selalu ingat ibuku. Nama tak melulu stereotype. Namaku adalah pengharapan. Dan juga alamat matiku.

Menghabiskan masa kecilku di Ranah Toraja, aku selalu mempunyai mimpi. Suatu saat, akan kubangun negeri ini menjadi negeri impian.

Dengan ketekunan tiada batas, kuraih institut terbaik di negeri ini. Kuanggap itu sebagai jembatan menuju jalan membahagiakan bangsa.

Mengenyam pendidikan di institut bersemboyan gajah duduk selama empat tahun, membuatku idealis terharap bangsa ini.

Lulus cumlaude. Menolak tawaran menjadi buruh pemerintahan maupun kuli asing, dengan penuh idealis aku memilih ke Jakarta. Memulai dari nol.

Ternyata Jakarta tidak semudah yang kukira. Jakarta tidak tunduk pada cum laude. Jakarta tidak tunduk pada institut terbaik di negeri ini.

Dari Stastiun Kota hingga Manggarai, kucermati tiap sudut kota Jakarta. Ada keelokan dalam kesederhanaan, ada kesombongan dalam kemegahan.

Lulusan teknik sipil, seharusnya lebih membangun, daripada sekadar negeri. Aku bisa membangun surga untuk ibuku, dan neraka untuk musuhku.

Namun Jakarta bukanlah surga untukku, bukan juga neraka untukku. Keidealisanku dianggap monoton, khas perantau.

Keberadaanku hanya memenuhi sudut Jakarta yang tidak bisa lagi diukur dengan busur. Nafasku menggangu derajat kehidupan.

Dua puluh lima kantor penyedia jasa konstruksi kujabani. Kutunjukkan kertas berukir tinta emas itu, sebagai bukti bhaktiku.

Mereka bilang : "Ah, kau pikir aku percaya dengan sekumpulan angka itu?".

Kusesalkan keputusan mereka memilih lulusan universitas luar negeri. Termakan stereotype. Gila gengsi. Otak buruh.

Mereka pikir, ajaran orang asing akan lebih baik? Lupa mereka pada didikan bangsa sendiri?

0 you say so: